1. Adaptasi fisiologis BBL terhadap kehidupan luar uterus,
2. Perlindungan thermal,
3. Pemeliharaan pernafasan,
4. Pemotongan tali pusat,
5. Evaluasi nilai apsgar,
6. Resusitasi, Bounding Attachment,
7. Pemberian asi awal,
8.Pendokumentasian hasil asuhan
PADA AKHIR PEMBELAJARAN MAHASISWA DIHARAPKAN MAMPU MENJELASKAN :
1. Adaptasi fisiologis BBL terhadap kehidupan luar uterus,
2. Perlindungan thermal,
3. Pemeliharaan pernafasan,
4. Pemotongan tali pusat,
5. Evaluasi nilai apsgar,
6. Resusitasi, Bounding Attachment,
7. Pemberian asi awal,
8.Pendokumentasian hasil asuhan
2. Perlindungan thermal,
3. Pemeliharaan pernafasan,
4. Pemotongan tali pusat,
5. Evaluasi nilai apsgar,
6. Resusitasi, Bounding Attachment,
7. Pemberian asi awal,
8.Pendokumentasian hasil asuhan
Asuhan
neonatal essential, Merupakan pelaksanaan awal BBL
(sejak proses persalinan
sampai
kelahiran bayi) meliputi :
- Persalinan bersih dan aman (PI)
- Memulai atau inisiasi pernafasan spontan
- Stabilisasi suhu bayi
- ASI dini dan eksklusif
- Pencegahan infeksi
- Pemberian imunisasi
MEMULAI ATAU INISIASI PERNAFASAN SPONTAN
YAITU :
Begitu bayi lahir, segera dilakukan inisiasi
Pernafasan spontan dengan penilaian awal
pada BBL secara tepat dan cepat (0-30 detik), Nilai kondisi BBL dengan 5
pertanyaan : (yang baru 2 pertanyaan)
1. Air ketuban jernih, tidak bercampur mekoneum ?
2. Bayi bernafas spontan ?
3. Kulit bayi kemerahan ?
4. Kekuatan otot bayi cukup ?
5.Bayi lahir aterm ?
Apabila semua pertanyaan jwbnya ” Ya ”
maka bayi tersebut dapat segera diberikan kepada ibunya untuk Menciptakan
Hubungan emosional, ð
lakukan Asuhan Pada BBL normal, Apabila salah satu/Lebih pertanyaan jwbnya ” Tidak ”, maka Lakukan langkah awal resusitasi BBL.
Perlindungan thermal
Perlindungan thermal merupakan
point penting pada asuhan BBL. Yang Meliputi :
1. Mekanisme
kehilangan panas bayi baru lahir
2. Upaya mencegah
kehilangan panas
3. Rekomendasi
4. Mengapa manjaga
kehangatan bayi begitu penting?
5. Mata rantai
kehangatan
Mekanisme kehilangan panas pada BBL:
- Evaporasi : Cara kehilangan panas utama karena menguapnya cairan ketuban pada permukaan tubuh setelah bayi lahir karena tubuh bayi tidak segera dikeringkan (setelah bayi dimandikan)
- Konduksi : Kehilangan panas melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin. Bayi yang diletakkan diatas permukaan meja, tempat tidur atau permukaan timbangan yang dingin akan cepat mengalami kehilangan panas tubuh akibat proses konduksi.
- Konveksi : Kehilangan panas saat bayi terpapar dengan udara sekitar yang lebih dingin, bayi yang dilahirkan diruangan yang dingin. Dapat juga karena tiupan kipas angin atau penyejuk ruangan.
- Radiasi :
Kehilangan panas yang terjadi saat bayi ditempatkan dekat benda yang mempunyai suhu lebih rendah dari suhu tubuh bayi. Bayi dapat kehilangan suhu tubuh, dengan cara ini meskipun bayi tidak bersentuhan secara langsung dengan benda dingin tersebut.
UPAYA MENCEGAH KEHILANGAN PANAS :
1. Mengeringkan bayi dengan selimut atau handuk hangat
(cegah evaporasi), merangsang taktil dan memulai pernafasan
2. Membungkus bayi terutama kepalanya, dengan selimut
bersih, kering dan hangat
3. Anjurkan ibu memeluk dan memberikan ASI, dg kontak
kulit ke kulit, bayi terjaga
kehangatannya
4. Penimbangan setelah bayi memakai baju (cegah
konduksi).
5. Mamandikan bayi minimal 6 jam setelah lahir (tunggu
sampai suhu tubuh bayi stabil). Untuk mencegah Hypothermi
6. Tempatkan bayi dilingkungan hangat. (rawat gabung)
Idealnya Tempatkan bayi dilingkungan hangat. (rawat gabung).
REKOMENDASI :
- Kehilangan
panas terbanyak pada menit ke 10-20 post partum (bayi dapat ð penurunan suhu tubuh sekitar 2-4°C)
- Sebelum
memandikan, pastikan suhu aksila 36,5 -37,5°C. Jika < 36,5 °C hangatkan kembali
dan tunda waktu memandikan hingga suhu tubuh stabil, paling sedikit dilakukan
setelah satu jam observasi
- Jangan
memandikan bayi yang telah mengalami masalah pernafasan
- Sebelum
memandikan bayi, pastikan suhu rungan hangat, siapkan handuk untuk mengeringkan
dan menghangatkan bayi.
- Mandikan bayi
secara cepat dengan air bersih dan hangat, lalu segera keringkan dengan handuk
kering, bersih dan hangat
- Ganti handuk
basah dan selimut bayi dengan kain hangat bersih dan kering secara longgar
- Tempatkan bayi
ditempat tidur sama dengan ibunya, dan dorong untuk memulai pemberian ASI awal.
PENTINGNYA MENJAGA KEHANGATAN BAYI KARENA :
1. Penurunan suhu
yang cepat pada BBL dikarenakan ketidakmampuan bayi menghasilkan panas yang
cukup untuk mengimbangi kehilangan panas pada proses kelahiran
2. Setiap bayi
yang lahir memiliki pengendalian panas yang belum matang
3. Bayi premature
tidak memiliki zat lemak yang cukup untuk menghasilkan panas
4. Bayi yang
mengalami gawat dingin, suhu 36-36,4 °C akan memerlukan oksigen yang lebih
banyak dan menghabiskan cadangan glikogen.
MATA RANTAI KEHANGATAN:
1. Ruang
persalinan yang hangat
2. Pengeringan
segera
3. Kontak kulit
dengan kulit
4. Penyusuan
segera
5. Penundaan
memandikan dan menimbang
6. Pakaian dan
tempat tidur yang cocok
7. Ibu dan bayi
bersama (RG)
8. Alat transport
yang hangat
9. Bntuan
pernafasan yang hangat
10. Pelatihan dan
peningkatan kesadaran bagi petugas, keluarga dan masyarakat
MEMULAI
PERNAFASAN:
Langkah awal
merangsang bayi bernafas :
1. Cegah
kehilangan panas
2. Secara perlahan
menggosok punggung bayi yang telah dikeringkan
3. Memposisikan
bayi dengan baik,letakkan bayi dalam posisi terlentang dengan kepala setengah
tengadah atau ekstensi atau sambil mengganjal bahu bayi dengan kain
4. Bersihkan jalan
nafas dari mulut kemudian hidung (mencegah dan memastikan tidak terjadi
aspirasi saat hidungnya dihisap)
KETENTUAN DALAM
MEMBERSIHKAN JALAN NAFAS :
- Bila air
ketuban jernih, hisap dengan penghisap De Lee yang telah di DTT atau steril
dari mulut kemudian hidung
- Bila air
ketuban bercampur mekonium, mulai penghisapan lendir setelah kepala lahir
(berhenti sebentar untuk menghisap lendir dimulut kemudian hidung).
MEMULAI PERNAFASAN ;
1. Bila bayi
menangis atau sudah bernafas dengan teratur. Warna kulit kemerahan, laksanakan
asuhan BBL normal
2. Bila bayi tidak
menangis atau megap-mega, warna kulit biru atau pucat, DJJ kurang dari 100x
permenit, laksanakan resusitasi.
Rangsangan taktil:
- Jika BBL tidak
mulai bernafas memadai, laksanakan rangsangan taktil. Saat melakukan rangsangan
taktil, pastikan bayi diletakkan pada posisi yang benar dan jalan nafas telah
bersih
- Langkah
rangsangan taktil : Dengan lembut
gosok punggung, tubuh, kaki dan tangan (Ekstremitas) 1-2 kali, Dengan lembut
tepuk telapak kaki bayi (1-2 kali).
NO
|
BENTUK
RANGSANGAN
|
ALASAN
|
1.
|
MENEPUK DADA
|
TRAUMA DAN
CEDERA
|
2.
|
MENEKAN
RONGGA DADA
|
FRAKTUR, PNEUMOTHORAK, GAWAT NAFAS
DAN KEMATIAN
|
3.
|
MENEKAN KEDUA
PAHA BAYI KE PERUTNYA
|
MERUSAK HATI,
LIMPA, PERDARAHAN DI DALAM
|
4.
|
MENDILATASI
SPINGTER ANI
|
ROBEK
|
5.
|
MENGOMPRES
PANAS ATAU DINGIN ATAU MENEMPATKAN BAYI DI AIR PANAS ATAU DINGIN
|
HYPOTHERMI,
LUKA BAKAR
|
6.
|
MENGGUNCANG
BAYI
|
KERUSAKAN
OTAK
|
7.
|
MENIUPKAN O2 ATAU UDARA DINGIN KE
TUBUH BAYI
|
HYPOTHERMI
|
ASUHAN TALI PUSAT:
1. Menangani tali
pusat
2. Mengapa
pemberian salep, krim, ramuan, dan pembungkusan tali
pusat harus dihindari ?
MENANGANI TALI
PUSAT:
1. Jangan membungkus pusar bayi/mengoleskan bahan apapun
pada puntung tali pusat dan menasehati keluarga untuk tidak melakukan hal
tersebut
2. Mengusapkan alcohol atau povidon ioden masih di
perbolehkan, asalkan tali pusat tidak
basah/lembab
3. Beri nasehat
pada ibu dan keluarga
4. Lipat popok
dibawah puntung tali pusat
5. Jika puntung tali pusat kotor, cuci dengan air DTT
dan sabun kemudian keringkan
6. Jika pusar merah dan bernanah, segera cari pertolongan
untuk merujuk.
|
0
|
1
|
2
|
Apperience
|
Pucat biru
|
Tubuh
kemerahan, tangan kaki biru
|
Seluruh tubuh
kemerahan
|
Pulse
|
Tidak
terdapat denyut jantung
|
< 100x
permenit
|
> 100x
permenit
|
Grimnace
|
Tidak ada
respon
|
Menyeringai
|
Menangis,
batuk atau bersin
|
Activity
|
Tangan dan
kaki lumpuh
|
Sedikit
gerekan terhadap rangsangan
|
Gerak aktif,
tangan dan kaki gerak
|
Respiration
|
Tidak ada nafas atau tangis
|
Nafas pelan,
tidak teratur, merintih
|
Menangis kuat
|
Apperience /
warna kulit :
BBL umumnya tungkai berwarna biru
dan bagian tubuh lain berwarna merah (nilai apgar 1), terjadi pada hampir 85 %
semua BBL normal pada 5 pertama.
Pulse / denyut
nadi :
Dengan stetoskop atau merasakan
denyut nadinya dengan jari pada sambungan tali pusat dan kulit, hitung dalam 6
detik dan tambahkan “
0” untuk total denyut jantung selama 1 menit
Grimnace /
menyeringai :
Dengan lembut gosoklah secara
bolak-balik telapak kaki bayi dengan salah satu jari bidan kemudian amati
reaksi wajahnya atau perhatikan saat dilakukan hisapan lendir
Activity /
kegiatan :
Amati BBL tersebut saat menggerakkan tangan dan kakinya
atau tariklah satu tangan atau kakinya menjauh dari tubuhnya, lihat bagaimana
gerak tangan dan kakinya sebagai reaksi terhadap rangsangan. Siku dan pinggul
BBL yang normal adalah fleksi dengan lutut diposisikan keatas perut.
R
espiration / pernafasan :
1. Lihatlah dada dan perut BBL
2. Upaya nafas adalah nilai apgar yang
terpenting nomer 2
3. Tidak ada pernafasan berarti apnoe
4. Tangis yang kuat menunjukkan pernafasan
yang baik
PERAWATAN MATA
Teknik
pemberian profilaksis mata :
-Cuci tangan
-Jelaskan pada
keluarga tentang apa yang akan dilakukan, pastikan pada keluarga obat tersebut
menguntungkan bagi bayinya
-Berikan salep
atau tetes mata pada satu garis lurus, mulai sudut mata medial (dekat hidung)
menuju sudut mata lateral (dekat telinga). Salep yang digunakan adalah
Erytromicin 0,5 % atau Tetrasiklin 1 %
-Pastikan ujung
mulut tabung salep atau penetes tidak menyentuh mata bayi
-Setelah salep
diteteskan, tutuplah mata tersebut perlahan dan sebentar, minta keluarga agar
tidak menghapus obat tersebut.
PEMBERIAN ASI AWAL :
1. Pemberian ASI
dimulai pada 30 menit setelah kelahiran. Anjurkan ibu untuk memeluk dan mencoba
untuk menyusui bayinya segera setelah talipusat diklem dan dipotong
2. Posisikan ibu
untuk menyusui
3. Periksalah
untuk mengetahui apakah bayi telah dibungkus hangat, apakah bernafas dengan
teratur dan tidak menemui kesulitan, apakah sudah menempel pada payudara dengan
posisi yang benar, menghadap pada ibu sambil menyusu dengan nyaman.
IKATAN BATIN ANAK
-Perhatikan
sampai dimana ibu dan anak membuat ikatan batin
-Proses
pengenalan dimulai dari pandangan mata kemudian sentuhan tangan
-Doronglah
ikatan batin tersebut melalui penjelasan untuk setiap pertanyaan yang diajukan
dan beritau kedua orang tua tersebut bagimana penilaian bidan tentang kondisi
bayinya. Misalnya, ”
bayi mungil itu tangisannya keras”, ”
bayi laki-laki itu tampaknya senang dengan ASI ibu, lihatlah cara menghisap
bayi ibu ”
-Tahun 1984 ada
penilaian tentang perilaku ibu terhadap bayi (Salariya dan Center). Ada 5 faktor yang diobsercasi
(FIRST) yaitu Feeding, Interest, Response, Speech and Eye Contack, Touch.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INTERAKSI ORANG TUA-BAYI
-Kurang kasih
sayang, jika hal ini dialami oleh ibu akan
mempengaruhi ibu dalam merawat anaknya
-Disabilitas
bayi, misalnya bayi tuli atau bisu
-Penyakit
psikologis penggunaan alkohol dan kekerasan pada
anak, ibu cenderung tidak mampu mengasuh
anaknya, bahkan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri
-Alasan
personal, social untuk menolak bayinya, hal ini
disebabkan karena kurangnya
dukungan social, keluarga,
karena kemiskinan dan tidak punya rasa
percaya diri untuk
mengasuh bayinya.
-Harapan yang
tidak realistis terhadap kemampuan bayinya,
misalnya bayi harus tidur setiap habis
makan terutama
pada malam hari.
-Ketertarikan
maternal pada diri sendiri
-Bayi
premature, terutama apabila rawat pisah.
PENATALAKSANAAN ASFIKSIA PADA BBL :
Asfiksia adalah
kegagalan memulai dan melanjutkan pernafasan secara spontan dan teratur pada
saat BBL atau beberapa saat sesudah BBL. Bayi mungkin lahir dalam kondisi
asfiksia (Asfiksia primer) atau mungkin dapat bernafas tetapi kemudian
mengalami asfiksia beberapa saat setelah bayi lahir (Asfiksia sekunder).
Gejala dan tanda-tanda asfiksia :
1. Tidak
bernafas atau bernafas megap-megap atau pernafasan lambat (< 30 kali
permnit)
2. Pernafasan
tidak teratur, dengkuran atau retraksi dada
3. Tangisan lemah
atau merintih
4. Warna kulit
atau biru
5. Tonus otot
lemas atau ekstremitas terkulai
6. Denyut jantung
tidak ada atau lambat (Bradycardi, < 100 kali permenit)
MEKONEUM PADA
CAIRAN KETUBAN
Komplikasi lain
yang sering ditemui dan dapat membahayakan kesehatan BBL adalah adanya mekoneum
pada cairan ketuban. Sangat sulit mengetahui kapan saat yang tepat terjadinya
pengeluaran mekonium. Untuk itu bidan harus siap adanya mekonium, pada cairan
ketuban setiap kelahiran. Adanya cairan mekonium pada cairan ketuban
mengindikasikan adanya gangguan pada bayi yang berkaitan dengan masalah
intrauterin ataupun gangguan respirasi karena aspirasi mekonium setelah bayi
lahir.
LANGKAH YANG HARUS DILAKUKAN BIDAN :
- Lakukan
penghisapan mulut dan hidung bayi setelah kepala lahir sebelum bahu lahir
- Setelah bayi
lahir, lakukan langkah awal resusitasi hingga tahap penilaian bayi :
1. Bila bayi bugar (nafas spontan, tonus baik dan denyut jantung
> 100 permenit lakukan asuhan
normal BBL).
2. Bila tidak terjadi nafas spontan,
lakukan penghisapan mulut (dengan membuka mulut lebih lebar) dan lakukan
ventilasi.
KRITERIA BIDAN DAPAT MENINGGALKAN IBU DAN BAYI SETELAH 2 JAM PP :
1. Bayi menangis
kuat, nafas teratur dan tanpa kesulitan
2. Warna kulti
merah muda
3. Suhu aksiler
36,5-37,5 °
C
4. Bayi mampu
menyusu dengan baik
5. Tetes mata
telah diberikan
TANDA BAHAYA
BAYI HARUS SEGERA DIRUJUK :
-Bayi tidak
membuat respon terhadap resusitasi, atau masih tetap bernafas tidak teratur,
atau
-Bayi dengan
Hypothermi, kejang, infeksi berat, ikterus pada hari 1 dan 2, tidak mampu
menyusu dengan baik (menghisap ASI), atau b
ayi dengan
kelainan kongenital.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar